Larangan Riba dalam Islam

Larangan Riba dalam Islam - Halo Bro Blog Panduan Startup, Pada Postingan yang anda baca kali ini dengan judul Larangan Riba dalam Islam, Saya telah mempersiapkan artikel ini dengan sebaik mungkin untuk anda baca dan ambil ilmu di dalamnya. Semoga isi Artikel Artikel Fiqih Muamalat, yang saya buat ini bisa anda pahami. Okelah, selamat membaca.

Judul : Larangan Riba dalam Islam
link : Larangan Riba dalam Islam

Baca juga


Larangan Riba dalam Islam

Larangan Riba dalam Islam  
Larangan Riba dalam Islam

Secara etimologis (bahasa), riba berarti tambahan (ziyadah) atau  berarti tumbuh dan membesar.
Adapun menurut istilah teknis, riba berarti pengambilan tambahan dari harta pokok atau modal secara batil.
apabila tukar-menukar emas atau perak maka harus sama ukuran dan timbangannya, jika tidak sama maka termasuk riba.

Ada beberapa pendapat dalam menjelaskan riba, namun secara umum terdapat benang merah yang menegaskan bahwa riba adalah pengambilan tambahan, baik dalam transaksi jual beli maupun pinjam meminjam secara batil atau bertentangan dengan prinsip muamalah dalam islam.

Menurut Ibnu al-Arabi al-Maliki dalam kitabnya Ahkam Al-qur’an, menjelaskan:

Pengertian riba secara bahasa adalah tambahan, namun yang dimaksud riba dalam ayat Qur’ani yaitu setiap penambahan yang diambil tanpa adanya satu transaksi pengganti atau penyeimbang yang dibenarkan syariah.

Yang dimaksud dengan transaksi pengganti atau penyeimbang yaitu transaksi bisnis atau komersial yang melegitimasi adanya penambahan tersebut secara adil, seperti transaksi jual beli, gadai, sewa atau bagi hasil proyek.

Transaksi sewa, si penyewa membayar upah sewa karena adanya manfaat sewa yang dinikmati termasuk menurunnya nilai ekonomis suatu barang karena penggunaan si penyewa. Mobil misalnya, sesudah dipakai maka nilai ekonomisnya pasti menurun jika dibandingkan sebelumnya.

Dalam hal jual beli, si pembeli membayar harga atas imbalan barang yang diterimanya. Demikian juga dalam proyek bagi hasil, para peserta perkongsian berhak mendapat keuntungan karena disamping menyertakan modal juga turut serta menanggung kemungkinan risiko kerugian yang bisa saja muncul setiap saat.

Dalam transaksi simpan pinjam dana secara konvensional si pemberi pinjaman mengambil tambahan dalam bentuk bunga tanpa adanya suatu penyeimbang yang diterima si peminjam kecuali kesempatan dan faktor waktu yang berjalan selama proses peminjaman tersebut.

Yang tidak adil di sini adalah si peminjam diwajibkan untuk selalu, tidak boleh tidak, harus, mutlak dan pasti untung dalam setiap penggunaan kesempatan tersebut.

Demikian juga dana itu tidak akan berkembang dengan sendirinya hanya dengan faktor waktu semata tanpa ada faktor orang yang menjalankan dan mengusahakannya. Bahkan ketika orang tersebut mengusahakan bisa saja untung bisa juga rugi.

Larangan riba dalam al-qur’an dan as-sunnah
Larangan riba dalam alqur’an

Larangan riba yang terdapat dalam al-qur’an tidak diturunkan sekaligus melainkan dalam empat tahap:

Menolak anggapan bahwa pinjaman riba yang pada zahir-nya seolah-olah menolong mereka yang memerlukan sebagai suatu perbuatan mendekati atau taqarrub kepada Allah SWT.

“dan, sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia menambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan, apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya)” (ar-Ruum: 39)

Riba digambarkan sebagai suatu yang buruk. Allah SWT mengancam akan memberi balasan yang keras kepada orang yahudi yang memakan riba.

“maka, disebabkan kezaliman orang-orang yahudi, kami haramkan atas mereka (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah, dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang darinya, dan karena mereka memakan harta orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih.” (an-Nisaa’: 160-161)

Riba diharamkan dengan dikaitkan kepada suatu tambahan yang berlipat ganda. Para ahli tafsir  berpendapat bahwa pengambilan bunga dengan tingkat yang cukup tinggi merupakan fenomena yang banyak dipraktekan pada masa tersebut.

“hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.” (Ali-Imran: 130).

Secara umum bahwa kriteria berlipat ganda bukanlah merupakan syarat dari terjadinya riba (jikalau bunga berlipat ganda maka riba, tetapi jikalau kecil bukan riba), tetapi ini merupakan sifat umum dari praktik pembungaan uang pada saat itu.

Allah SWT dengan jelas dan tegas mengharamkan apa pun jenis tambahan yang diambil dari pinjaman. Ini adalah ayat terakhir yang diturunkan menyangkut riba

“ hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka, jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan, jika kamu bertobat (dari pengambilan riba) maka bagimu pokok hartamu, kamu tidak menganiaya dan tidak pula dianiaya.” (al-Baqarah: 278-279)

Larangan riba dalam hadits

Diriwayatkan oleh Abu Said al-Khudri bahwa pada suatu ketika Bilal membawa barni (sejenis kurma berkualitas baik) ke hadapan Rasulullah saw. Dan beliau bertanya kepadanya, “darimana engkau mendapatkannya?” bilal menjawab, “saya mempunyai sejumlah kurma dari jenis yang rendah mutunya dan menukarkannya dua sha’ untuk satu sha’ kurma jenis barni untuk dimakan oleh Rasulullah saw. “ selepas itu Rasulullah terus berkata, “ hati-hati! Hati-hati! Ini sesungguhnya riba, ini sesungguhnya riba. Jangan berbuat begini, tetapi jika kamu membeli (kurma yang mutunya lebih tinggi), juallah kurma yang mutunya rendah untuk mendapatkan uang dan kemudian gunakanlah uang tersebut untuk membeli kurma yang bermutu tinggi itu.” (HR Bukhari no. 2145, kitab al-Wakalah)

Diriwayatkan oleh Abdurrahman bin Abu Bakar bahwa ayahnya berkata, Rasulullah saw. melarang penjualan emas dengan emas dan perak dengan perak kecuali sama beratnya, dan membolehkan kita menjual emas dengan perak dan begitu juga sebaliknya dengan keinginan kita.” (HR Bukhari no. 2034, kitab al-Buyu)

Diriwayatkan oleh Abu Said, ak-khudri bahwa Rasulullah saw. bersabda, “emas hendaklah dibayar dengan emas, perak dengan perak gandum dengan gandum, tepung dengan tepung, kurma dengan kurma, garam dengan garam, bayaran harus dari tangan ke tangan (cash). Barangsiapa memberi tambahan atau meminta tambahan, sesungguhnya ia telah berurusan dengan riba. Penerima dan pemberi sama-sama bersalah.” (HR Muslim no. 2971, dalam kitab al- Masaqqah)

Alasan melakukan riba

Ada beberapa alasan untuk membenarkan bunga di dalam system perbankan:

Teori abstinence

teori ini menganggap bunga adalah sejumlah uang yang diberikan kepada seseorang karena pemberi pinjaman telah menahan diri (abstinence) dari keinginannya memanfaatkan uangnya sendiri semata-mata untuk memenuhi keinginan peminjam.

Pengorbankan untuk menahan keinginan, sehingga menunda suatu kepuasan, menuntut adanya kompensasi, dan kompensasi itu adalah bunga.

2. Teori bunga sebagai imbalan sewa.

Teori ini menganggap uang sebagai barang yang menghasilkan keuntungan bilamana digunakan untuk melakukan produksi. Jadi uang bila tidak digunakan tidak menghasilkan keuntungan, tetapi bila digunakan dipastikan menghasilkan keuntungan sekian persen dari usaha yang dilakukan.

Uang tidak bisa disamakan dengan barang-barang rumah tangga atau perusahaan. Karena barang-barang tersebut membuthkan perawatan dan nilainya cenderung menyusut

Nilai uang akan sama dengan nilai barang dan sifat uang sama dengan sifat barang. Nilaiya tidak stabil, maka fungsi uang akan kehilangan esensinya.

Sulit memperhitungkan besarnya sewa uang yang dikenakan kepada orang lain, dan bisa saja ini akan mengingkari aspek kemanusiaan

3. Teori produktif-konsumtif

menganggap setiap uang yang dipinjamkan akan membawa keuntungan bagi orang yang dipinjaminya. Jadi setiap uang yang dipinjamkan baik pinjaman produktif maupun konsumtif pasti menambah keuntungan bagi peminjam sehingga pihak yang meminjami berhak untuk menarik sekian persen dari keuntungan dari apa yang telah peminjam lakukan atas pinjaman yang telah diberikan.

4. Teori opportunity cost

beranggapan bahwa dengan meminjamkan uangnya berarti pemberi pinjaman menunggu atau menahan diri untuk tidak menggunakan modal sendiri guna memenuhi keinginan sendiri. Hal ini serupa dengan memberikan waktu kepada peminjam. Dengan waktu itulah yang berutang memiliki kesempatan untuk menggunakan modal pinjamnna untuk memperoleh keuntungan.

hal ini pemberi pinjaman berhak menikmati  sebagian keuntungan peminjam. Menurut mereka besar kecilnya keuntungan terkait langsung dengan besar kecilnya waktu.

pemberi pinjaman dianggap beerhak mengenakn harga sesuai dengan lamanya waktu pinjaman.

5. Teori kemutlakan produktivitas modal

Beranggapan bahwa: pertama, modal mempunyai kesanggupan sebagai alat dalam memroduksi. Kedua, modal mempunyai kekuatan-kekuatan, untuk menghasilkan barang-barang dalam jumlah yang lebih besar dari apa yang bisa dihasilkan tanpa memakai modal. Ketiga, modal langsung menghasilkan benda-benda yang lebih berharga daripada yang dihasilkan tanpa modal. Keempat, modal sanggup menghasilkan nilai yang lebih dari nilai modal itu sendiri.

Dengan demikian pemilik modal layak mendapat imbalan bunga.

6. Teori nilai uang pada masa dating lebih rendah

Menganggap bunga sebagai selisih nilai (agio) yang diperoleh dari barang-barang pada waktu sekarang terhadap perubahan atau penukaran barang diwaktu yang akan dating.

Ada tiga alasan mengapa nilai barang di waktu mendatang akan berkurang, yaitu:

Keuntungan di masa yang akan datang diragukan.  Hal tersebut disebabkan oleh ketidakpuasan peristiwa serta kehidupan manusia yang akan datang. Sedangkan keuntungan masa kini angat jelas dan pasti.

Kepuasan terhadap kehendak atau keinginan masa kini lebih bernilai bagi mansia daripad kepuasan mreka pada waktu yang akan datang. Pada masa yang akan datang, mungkin saja seseorang tidak mempunyai kehendak sama dengan sekarang.
Kenyataan barang-barang pada waktu kini lebih penting dan berguna. Dengan demikian barang-barang tersebut mempunyai nilai yang lebih tinggi dibanding dengan barang-barang pada waktu yang akan datang.

7. Teori inflasi

Menganggap adanya kecenderungan penurunan nilai uang dimasa datang. Maka menurut paham ini, mengambil tambahan dan uang yang dipinjamkan merupakan sesuatu yang logis  sebagai kompensasi penurunan nilai uang selama dipinjamkan.

Hukum bunga bank

Bunga konsumsi sama dengan riba, hukumnya haram. Bunga produktif tidak sama dengan riba, hukumnya halal
Bunga yang diperoleh dari tabungan giro tidak sama dengan riba hukumnya halal
Bunga yang diterima dari deposito yang disiman di bank, hukumnya boleh
Bunga bank tidak haram kalua bank itu menetapkan tarif bunganya terlebih dahulu secara umum.

Perbedaan investasi dan membungakan uang

Investasi adalah kegiatan usaha yang mangandung risiko karena berhadapan dengan unsur ketidakpastian. Dengan demikian perolehan kembalinya tidak pasti dan tidak tetap

Membungakan uang adalah kegiatan usaha yang kurang mengandung risiko karena perolehan kembalinya berupa bunga yang relative pasti dan tetap

Islam mendorong masyarakat ke arah usaha nyata dan produktif. Islam mendorong seluruh masyarakat untuk melakukan investasi dan melarang membungakan uang. Sesuai dengan investasi diatas, menyimpan uang di bank islam termasuk kategori kegiatan investasi karena perolehan kembalinya dari waktu k waktu  tidak pasti dan tidak tetap.

Besar kecilnya perolehan kembali itu bergantung pada hasil usaha yang benar-benar terjadi dan dilakukan bank sebagai mudharib atau pengelola dana.

Dengan demikian, bank islam tidak dapat sekedar menyalurkan uang. Bank islam harus terus berupaya meningkatkan kembalian atau return of investment sehingga lebih menarik dan lebih memberi kepercayaan bagi pemilik dana.

Macam-macam riba yang diharamkan

Riba nasiah (riba karena pengunduran waktu)

Pada zaman jahiliyah terdapat seseorang yang meminjam uang atau benda dari orang lain, misalnya sekilo gandum dalam jangka waktu tertentu. Apabila saat pembayaran tiba, pihak empunya piutang (kreditur) berkata kepada penerima utang (debitur), “kamu bayar utangmu itu, atau kamu beri bunga (riba)”, maksudnya menambah pembayaran utangnya sesuai dengan pengunduran waktu pembayaran.

Jenis riba ini dikenal juga dengan istilah ribal quran  sebab pengharamannya ditegaskan oleh nash Al-Quran atau riba jahiliyah sebab ilustrasi di atas telah dikenal di zaman jahiliyah, atau ribad dain (riba utang) sebab daerah operasinya memang  dalam soal-soal utang.

Riba Fadhal (riba penambahan)

Dalam Riba fadhal adalah setiap penambahan dalam tukar menukar barang dengan barang lain yang sejenis.
Jadi diperbolehkan tukar menukar dengan barang apapun dengan barang yang sejenis dalam ukuran yang sama dan tukar menukar ini harus kontan.  

adapun apabila kedua jenis barang itu berlainan dalam tukar menukar tersebut, seperti emas atau perak ditukar dengan gandum, atau padi ditukar dengan besidan seterusnya maka dapat dilakukan jual beli atas kesepakatan bersama.

Macam riba ini disebut juga riba sunah karena sumber pengharamannya adalah sunah (hadits) Rasulullah SAW. Juga dinamakan Riba Bai-i (riba jual beli) karena daerah operasinya dalam kontrak jual beli.


Demikianlah Artikel Larangan Riba dalam Islam

Sekianlah postingan Larangan Riba dalam Islam kali ini, mudah-mudahan bisa memberi manfaat untuk anda semua. baiklah, sampai jumpa di postingan artikel lainnya.

Anda sedang membaca artikel Larangan Riba dalam Islam dengan alamat link https://www.wkyes.me/2016/11/larangan-riba-dalam-islam.html

0 comments:

Post a Comment