Ahli waris Ashabul Furud dalam Fiqh Sunni

Ahli waris Ashabul Furud dalam Fiqh Sunni - Halo Bro Blog Panduan Startup, Pada Postingan yang anda baca kali ini dengan judul Ahli waris Ashabul Furud dalam Fiqh Sunni, Saya telah mempersiapkan artikel ini dengan sebaik mungkin untuk anda baca dan ambil ilmu di dalamnya. Semoga isi Artikel Artikel Sistem Kewarisan Islam, yang saya buat ini bisa anda pahami. Okelah, selamat membaca.

Judul : Ahli waris Ashabul Furud dalam Fiqh Sunni
link : Ahli waris Ashabul Furud dalam Fiqh Sunni

Baca juga


Ahli waris Ashabul Furud dalam Fiqh Sunni

Ahli waris Ashabul Furud dalam Fiqh Sunni

Pengertian Ashabul furudl

Yaitu ahli waris yang mendapat bagian yang telah ditentukan oleh syara’, yaitu ½, ¼, 1/8, 2/3, 1/3 dan 1/6.

a.Furudh ½

ØAnak perempuan bila ia hanya seorang diri saja

ØSaudara perempuan bila (kandung atau seayah) ia hanya seorang saja

ØSuami, bila pewaris tidak meninggalkan anak.

b.Furudh ¼

ØSuami, bila pewaris (istri) meninggalkan anak

ØIstri, bila pewaris (suami) tidak meninggalkan anak

c.Furudh 1/8

ØIstri, bila pewaris meninggalkan anak

 
d.Furudh 1/6

ØAyah, bila pewaris meninggalkan anak

ØKakek, bila pewaris tidak meninggalkan anak

ØIbu, bila pewaris meninggalkan anak

ØNenek, bila pewaris tidak meninggalkan anak

ØSeorang saudara seibu laki-laki atau perempuan

e.Furudh 1/3

ØIbu, bila ia mewarisi bersama ayah dan pewaris tidak meninggalkan anak atau saudara

ØSaudara seibu laki-laki atau perempuan, bila terdapat lebih dari seorang.

f.Furudh 2/3

ØAnak perempuan bila ia lebih dari dua orang, dengan syarat tidak ada anak laki-laki.

ØSaudara perempuan kandung atau seayah, bial ia dua orang atau lebih.

Ø
Macam-macam Ashabul Furudl

1.Ashabul furud sababiyah, ialah orang yang berhak mendapat warisan karena suatu sebab (akad perkawinan). Ditetapkan dalam surat an-Nisa’ ayat 12.

2.Ashabul furud nasabiyah, ialah ashabul furud yang berhak mendapat warisan yang telah ditetapkan oleh syara’. Karena ada hubungan nasab (darah/keturunan) dengan orang yang meninggal dunia.
 Yang termasuk ashabul furud nasabiyah

1)Ayah (QS. An-Nisa’: 11)

2)Ibu (QS. An-Nisa’: 11)

3)Kakek; bagiannya ditetapkan dalam hadis Rasul yang menetapkan: bagian nenek seperenam (HR. Ahmad dan Abu Dawud dari Ma’qil bin Yasar)

4)Nenek; bagiannya ditetapkan oleh Rasulullah bahwa bagian nenek seperenam jika tidak ada ibu (HR. Abu Dawud dan Nasai dari Ibnu Buraidah)

5)Anak perempuan; bagiannya ditetapkan dalam surat an-Nisa’ ayat 11.

6)Cucu perempuan; bagiannya ditetapkan dalam hadis Rasulullah: untuk anak perempuan setengah, dan bagian cucu perempuan seperenam dan selebihnya bagi saudara perempuan. (HR. Al-Jama’ah kecuali Muslim dan al-Turmuzi dari Ibnu Mas’ud).

7)Saudara laki-laki seibu (QS. an-Nisa’ ayat 12)

8)Saudara perempuan sekandung; bagiannya ditetapkan dalam hadis riwayat al-Jama’ah kecuali Muslim dan at-Turmudzi dari Ibnu Mas’ud.

9)Saudara perempuan seayah (QS. An-Nisa’: 176)

10)Saudara perempuan seibu (QS. An-Nisa’ ayat 12)

Para ahli waris ashabul furud tersebut harus didahulukan dalam menerima bagian harta peninggalan daripada ahli waris golongan ‘ashabah dan dzawil arham, kalau mereka ada.

Jika ada sisa, maka harta peninggalan itu dibagikan kepada ahli waris ‘ashabah.

Jika tidak ada seorangpun ahli waris ashabul furud pembagian harta peninggalan dimulai dari para ‘ashabah bila mereka ada.

Bila ahli waris ‘ashabah tidak ada, dialihkan kepada ahli waris dzawil arham.
Menurut hukum adat
 
Pembagian harta pusaka menurut hukum adat biasanya dilakukan atas dasar kerukunan dan keadilan antara para ahli waris.

Dalam membagi harta peninggalan berpijak pada dasar pemikiran yang konkrit, yakni memandang  kepada wujud harta yang ditinggalkan. Oleh karena itu harta peninggalan tidak diperhitungkan secara “jlimet” kesatuan nilainya, tetapi cukuplah kiranya asal masing-masing ahli waris memperoleh bagian yang wajar dan adil menurut penilaian hukum adat.

Atas dasar kerukunan dan keadilan serta dasar pemikiran yang konkrit (walaupun disana-sini tidak menggambarkan adanya keadilan bagi sebagian ahli waris), di beberapa daerah lingkungan hukum adat terjadi suatu ketentuan bahwa sebidang tanah pekarangan untuk anak perempuan yang tertua, seperti di Aceh, atau untuk anak laki-laki yang termuda/tertua, seperti di daerah Batak, bahwa benda-benda keramat diwariskan kepada anak laki-laki dan barang-barang perhiasan seperti kalung, cincin, subang, gelang dan lain sebagainya diserahkan kepada anak-anak perempuan.

Di suatu daerah lingkungan hukum adat, terutama di Jawa, istilah segendong sepikul tidak asing lagi. Dimaksudkan untuk membuat kepastian pembagian, walaupun masih sekedarnya. Ini diduga berasal dari ketentuan agama Islam.
 
Menurut Burgerlijk Wetboek (B.W.)
1.Membagi rata nilai harta peninggalan si mati berdasarkan jumlah ahli waris dalam golongan yang berhak menerima. Misalnya, seorang wafat meninggalkan harta warisan sejumlah Rp.100.000,- dan ahli warisnya terdiri dari 2 orang laki-laki, 5 orang anak perempuan dan istri, maka masing-masing menerima Rp.100.000,-:8=Rp.12.500,-

2.B.W. Tidak mengistimewakan bagian anak laki-laki daripada bagian anak perempuan dan tidak membedakan bagian anak dengan istri si mati (ibunya anak) seperti pada contoh di atas.
3.Penggantian kedudukan pewaris “plaatsvervulling” oleh anaknya dibenarkan, bila pewaris lebih dahulu meninggal dari pada orang yang mewariskan. Hal ini sesuai dengan Kitab undang-undang Washiyat Mesir, yang disebut “washiyat-wajibah”. Hanya dalam washiyat wajibah ada batasan maksimalnya. 

4.Ahli waris golongan terjauh tertutup (terhijab) oleh golongan yang lebih dekat. Misalnya ahli waris golongan II terhijab oleh golongan I, golongna III oleh golongan II dan seterusnya selama golongan yang lebih dekat tersebut masih ada.  

5.Kalau ahli waris tidak ada semua, harta peninggalan jatuh pada Negara. Di samping itu ada juga ketentuan-ketentuan lain. Misalnya pada ahli waris golongan II, bagian ibu dan ayah masing-masing tidak boleh kurang dari ¼ harta peninggalan. Jadi kalau ahli waris terdiri dari ibu, bapak dan 6 orang saudara, maka ibu dan bapak masing-masing mendapat ¼ peninggalan dan masing-masing saudara ½:6=1/12 peninggalan. 

Pada ahli waris golongan III pembagiannya tidak memandang jumlah kakek dan nenek yang ada, tetapi dibagi dua antara kakek/nenek dari jurusan bapak dan dari juruan ibu si mati.
 


Demikianlah Artikel Ahli waris Ashabul Furud dalam Fiqh Sunni

Sekianlah postingan Ahli waris Ashabul Furud dalam Fiqh Sunni kali ini, mudah-mudahan bisa memberi manfaat untuk anda semua. baiklah, sampai jumpa di postingan artikel lainnya.

Anda sedang membaca artikel Ahli waris Ashabul Furud dalam Fiqh Sunni dengan alamat link https://www.wkyes.me/2016/11/ahli-waris-ashabul-furud-dalam-fiqh.html

0 comments:

Post a Comment